LATAR BELAKANG
Dalam pelaksanaan
pendidikan lingkungan hidup selama ini, dijumpai berbagai situasi permasalahan antara lain: rendahnya
partisipasi masyarakat untuk berperan dalam pendidikan lingkungan hidup yang disebabkan oleh kurangnya pemahaman
terhadap permasalahan pendidikan lingkungan yang ada, rendahnya tingkat
kemampuan atau keterampilan dan rendahnya komitmen masyarakat dalam menyelesaikan
permasalahan tersebut. Di samping itu, pemahaman pelaku pendidikan terhadap
pendidikan lingkungan yang masih terbatas juga menjadi kendala. Hal ini dapat
dilihat dari persepsi para pelaku pendidikan lingkungan hidup yang sangat
bervariasi. Kurangnya komitmen pelaku pendidikan juga mempengaruhi keberhasilan
pengembangan pendidikan lingkungan hidup.
Dalam jalur pendidikan formal, masih ada
kebijakan sekolah yang menganggap bahwa
pendidikan lingkungan hidup tidak begitu penting sehingga membatasi ruang dan
kreativitas pendidik untuk mengajarkan pendidikan lingkungan hidup secara
komprehensif. Materi dan metode pelaksanaan pendidikan lingkungan hidup yang selama ini
digunakan dirasakan belum memadai
sehingga pemahaman kelompok sasaran mengenai pelestarian lingkungan hidup
menjadi tidak utuh. Di samping itu, materi dan metode pelaksanaan pendidikan
lingkungan hidup yang tidak aplikatif kurang mendukung
penyelesaian permasalahan lingkungan hidup yang dihadapi di daerah masing-masing. Sarana dan prasarana dalam
pendidikan lingkungan hidup juga memegang peranan penting.
BAB I PEMBAHASAN
A.
Pendidikan Lingkungan Hidup
Pendidikan lingkungan hidup adalah upaya mengubah perilaku dan sikap yang
dilakukan oleh berbagai pihak atau elemen masyarakat yang bertujuan untuk
meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kesadaran masyarakat tentang
nilai-nilai lingkungan dan isu permasalahan lingkungan yang pada akhirnya dapat
menggerakkan masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya pelestarian dan
keselamatan lingkungan untuk kepentingan generasi sekarang dan yang akan
datang.
Pendidikan lingkungan
hidup formal adalah kegiatan pendidikan di bidang lingkungan hidup yang
diselenggarakan melalui sekolah, terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan
menengah dan pendidikan tinggi dan dilakukan secara terstruktur dan berjenjang
dengan metode pendekatan kurikulum yang terintegrasi maupun kurikulum yang
monolitik (tersendiri).
Pendidikan lingkungan hidup nonformal adalah kegiatan pendidikan di bidang
lingkungan hidup yang dilakukan di luar sekolah yang dapat dilaksanakan secara
terstruktur dan berjenjang (misalnya pelatihan AMDAL, ISO 14000, PPNS).
Pendidikan lingkungan hidup informal adalah
kegiatan pendidikan di bidang lingkungan hidup yang dilakukan di luar sekolah
dan dilaksanakan tidak terstruktur maupun tidak berjenjang. Kelembagaan pendidikan
lingkungan hidup adalah seluruh lapisan masyarakat yang meliputi pelaku,
penyelenggara dan pelaksana pendidikan lingkungan hidup, baik di jalur formal,
nonformal dan informal.
B. Peran Pendidikan Lingkungan Hidup
Proses belajar mengajar sebaiknya dilakukan dengan
pendekatan lingkungan alam sekitar (PLAS). Dasar filosofis mengajar dengan
mengimpelementasikan pendekatan lingkungan alam sekitar adalah dari Rousseau
dan Pestalozzi.
Jean Jacques Rousseau (1712-1788), mengatakan bahwa
kesehatan dan aktifitas fisik adalah faktor utama dalam pendidikan anak-anak.
Rousseau percaya bahwa “anak harus belajar langsung dari pengalaman sendiri,
dari pada harus mendengarkan dari penjelasan buku”. Disini lingkungan sangat
berperan penting dalam proses pembelajaran.
Johann Heinrich Pestalozzi (1716-1827), seorang
pendidik berkebangsaan Swiss, dengan konsef “Home School”nya, menjadikan
lingkungan alam sekitar sebagai objek nyata untuk memberikan pengalaman pertama
bagi anak-anak. Pestalozzi juga mengajarkan ilmu bumi dan alam sekitar kepada
anak didiknya dengan fasilitas yang ada dilingkungan sekitarnya dan menanamkan
rasa tanggung jawab pada diri anak akan dirinya sendiri juga lingkungan agar
tetap seimbang.
Tanpa adanya campur tangan manusia, lingkungan hidup
belum tentu dapat terawat. Maka dari itu, penduduk mesti berperan aktif dalam
upaya menyelamatkan lingkungan.
Dalam rangka berperan aktif dalam menyelamatkan
lingkungan di antaranya adalah:
1.
Peran sebagai pengelola,
bukan penghancur lingkungan. Saat ini, banyak sekali penduduk yang perannya
tidak sesuai dengan kenyataan. Yang mestinya menjadi pengelola, malah yang
menjadi pengrusaknya. Pohon ditebang, lahan dieksporitasi dan udara dibuat
mengandung penyakit.
2.
Peran sebagai penjaga,
bukan perusak lingkungan. Kalau dalam diri penduduk sudah sadar akan pentingnya
lingkungan hidup untuk kehidupannya. Maka, mereka akan menjadi penjaga, bukan
menjadi perusak demi kepentingan pribadinya.
Sebab itulah pendidikan lingkungan di butuhkan dan
harus diberikan kepada anak sejak dini agar mereka mengerti dan kelak tidak
merusak lingkungan.
C. keluarga
Keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua, bersifat informal, yang pertama dan utama dialamai oleh anak serta
lembaga pendidikan yang bersifatkodrati
orang tua bertanggung jawab memelihara, merawat, melindungi, danmendidik
anak agar tumbuh adn berkembang dengan baik.
Pendidikan keluarga berfungsi:
1. Sebagai pengalaman pertama masa kanak-kanak
2. Menjamin kehidupan emosional anak
3. Menanamkan dasar pendidikan moral
4. Memberikan dasar pendidikan sosial.
5. Meletakkan dasar-dasar pendidikan agama bagi
anak-anak.
D. Sekolah
Tidak semua tugas mendidik dapat dilaksanakan oleh
orang tua dalam keluarga, terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan berbagai
macam keterampilan. Oleh karena itu dikirimkan anak ke sekolah. Sekolah
bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak selama mereka diserahkan kepadanya.
Karena itu sebagai sumbangan sekolah sebagai lembaga terhadap pendidikan,
diantaranya sebagai berikut;
1. Sekolah membantu orang tua mengerjakan
kebiasaan-kebiasaan yang baik serta menanamkan budi pekerti yang baik.
2. Sekolah memberikan pendidikan untuk kehidupan didalam
masyarakat yang sukar atau tidak dapat diberikan di rumah.
3. Sekolah melatih anak-anak
memeperoleh kecakapan-kecakapan seperti membaca, menulis, berhitung, menggambar
serta ilmu-ilmu lain sifatnya
mengembangkan kecerdasan dan pengetahuan. Di sekolah diberikan pelajaran etika,
keagamaa, estetika, membenarkan benar atau salah dan sebagainya.
E.
Masyarakat
Dalam konteks pendidikan, masyarakat merupakan lingkungan-lingkungan
keluarga dan sekolah pendidikan yang dialami dalam masyarakat ini, telah mulai
ketika anak-anak untuk beberapa waktu setelah lepas dari asuhan
Keluarga dan berada di luar dari
pendidikan sekolah. Dengan demikian, berarti pengaruh pendidikan tersebut
tampaknya lebih luas. Corak dan ragam pendidikan yang dialami seseorang dalam
masyarakat banyak sekali, ini meliputi segala
bidang, baiak pembentukan kebiasaan-kebiasaan, pembentukan pengertian-pengertian
(pengetahuan), sikap dan minat, maupun pembentukan
kesusilaan dan keagamaan
F.
Hubungan Makhluk dengan
Lingkungan
Lingkungan terdiri
komponen biotik dan abiotik. Biotik terdiri dari manusia, hewan dan tumbuhan.
Abiotik terdiri dari benda-benda tak bernyawa yang ada disekitar kita.
Antara makhluk yang satu dengan yang lainnya saling ketergantungan dan saling
melengkapi, seperti manusia membutuhkan hewan dan tumbuhan untuk keperluan
pangan, butuh air untuk minum dan lainnya. Hewan dan tumbuhan membutuhkan air
untuk bertahan hidup, butuh matahari dan sebagainya.
G. Tujuan Pendidikan Lingkungan Hidup
Pendidikan lingkungan
hidup adalah agar siswa memiliki pengetahuan, sikap dan perilaku rasional dan
bertanggung jawab terhadap masalah kependudukan dan lingkungan hidup. PLH bukan
mata pelajaran yang berdiri sendiri melainkan mata pelajaran yang di
integrasikan keberbagai mata pelajaran dalam kurikulum.
H.
Kelemahan
Pendidikan Lingkungan
faktor penghambat
motivasi dalam pelaksanaan pendidikan lingkungan hidup. Hal lain yang menjadi
faktor penghambat adalah kurangnya ketersediaan anggaran pendidikan lingkungan
hidup. Kurangnya perhatian Pemerintah untuk mengalokasikan dan meningkatkan
anggaran pendidikan lingkungan juga mempengaruhi perkembangan pendidikan
lingkungan hidup tersebut. Selain itu, pelaksanaan pendidikan lingkungan hidup
di berbagai instansi baik pemerintah maupun swasta tidak dapat maksimal karena
terbatasnya dana/anggaran dan penggunaannya yang kurang efisien dan efektif. Lemahnya
koordinasi antar instansi terkait dan para pelaku pendidikan menyebabkan kurang
berkembangnya pendidikan lingkungan hidup. Hal ini terlihat dengan adanya
gerakan pendidikan lingkungan hidup (formal dan nonformal/informal) yang masih
bersifat sporadis, tidak sinergis dan saling tumpang tindih.







